SATINTEL Bekali Dai LDII Ciri dan Penanganan Paham Radikalisme

SATINTEL Polres Jember Ipda Andi Feri Kristian dalam Diklat Dai LDII (27/3) memberikan pembekalan terkait ciri dan penanganan paham radikalisme di Indonesia.

Radikalisme di Indonesia pada umumnya muncul akibat adanya perbedaan cara pandang kelompok tertentu dalam menafsirakan ajaran agama yang ada dalam kitab suci menyangkut masalah ideologi. Kelompok tersebut cenderung menginterprestasikan ayat suci secara kaku dan tekstual, sehingga melahirkan pemahaman secara parsial atau tidak lengkap yang berakibat memunculkan pemahaman keleru dan radikal serta membenarkan aksi kekerasan walaupun melawan hukum.

Andi menggolongkan kelompok radikal di Indonesia ada dalam 6 tipologi, yaitu:

  1. Radikal Gagasan, yaitu kelompok yang secara gagasan radikal, namun tidak terlibat kekerasan
  2. Radikal Milisi, yaitu kelompok dalam bentuk milisi yang terlibat dalam konflik komunal
  3. Radikal Separatis, yaitu kelompok yang mengusung misi separatisme atau pemberontakan
  4. Radikal Premanisme, yaitu kelompok dalam bentuk kekerasan dan atau kemaksiatan
  5. Radikal lainnya, yaitu kelompok yang menyuarakan kepentingan kelompok politik, sosial, budaya, ekonomi dll
  6. Radikal Teroris, yaitu kelompok yang mengusung dan mengatasnamakan ideologi keagamaan, penghancuran, pembunuhan, bersifat massive, rasa takut yang meluas, dan pemaksaan ideologinya dengan cara kekerasan.

Kelompok radikal saat ini bergerak dengan berbagai opini yang ujungnya menggantikan sistem pemerintahan dengan kilafah, karena sistem pemerintah dianggap tidak berkonsep hukum sesuai dengan syariat Islam.

Ingin mengganti ideologi dan sumber hukum Pancasila dan UUD 1945 dengan konsep kilafah. Padahal kita hidup di negara Indonesia dengan keberagaman suku, bahasa, agama dan budaya.

Ciri gerakan radikalisme, mereka memposisikan diri seolah paling bertanggungjawab untuk meluruskan manusia yang tak sepaham dengannya. Beberapa aspek ibadah yang diutamakan adalah dalam hal penampilan, seperti gaya pakaian, mereka mengutamakan aktualisasi negara Islam dengan siap Berjihad. Menggunakan cara-cara kekerasan seperti pengeboman, penculikan, penyanderaan, pembajakan dan sebagainya yang dapat menarik perhatian massa. Mereka mudah berburuk sangka kepada orang lain yang tidak sepaham dengan pemikiran serta tindakannya. Mereka cenderung memandang dunia ini hanya dengan dua warna saja, yaitu hitam dan putih. Mereka tidak mengikuti kebijakan pemerintah yang tidak menerapkan sistem khilafah.

Andi berterimakasih kepada LDII yang selalu patuh dan turut serta membantu pemerintah dalam menjaga ketertiban masyarakat dan berdakwah dengan 6 tobiat luhurnya dan menjadi DAI Kamtibmas. LDII terbukti selalu mensukseskan program pemerintah dan turut serta dalam mensukseskan pemilihan umum, pemilihan kepala daerah, bahkan kepala desa. Ini terbukti di wilayah kami yaitu Rambipuji, warga LDII turut mensukseskan pilkada.

Metode penyebaran paham radikal melalui buku, website, media sosial, radio dan streaming, diskusi dan lainnya.

Mengantisipasi hal tersebut DAI Kamtibmas LDII supaya tidak mengambil materi dakwah dari Mbah google, YouTube dan media sosial yang belum jelas kebenarannya, kata Andi.

Andi menejelaskan, peran para DAI Kamtibmas sangat penting untuk menyadarkan bahayanya faham radikalisme kepada masyarakat. Maka sedini mungkin kita harus menyadarkan masyarakat, terutama kepada masjid-masjid dan peran DAI Kamtibmas agar tidak dimasuki faham-faham yang menyimpang.

Polri dalam penanganan faham radikal dan penanganannya meliputi pencegahan, deradikalisasi dan penegakan hukum. DAI Kamtibmas diajak untuk bisa memberikan pemahaman terhadap keyakinan yang benar. DAI Kamtibmas harus faham bahwa ideologi Pancasila dan UUD 1945 di Indonesia sudah final dan tidak bertentangan dengan agama. Ideologi Pancasila dan UUD 1945 menjamin warganya untuk beridabah sesuai dengan agamanya masing-masing. DAI Kamtibmas juga supaya bisa memberikan wawasan kebangsaan, cinta tanah air dan menjaga solidaritas, kerukukan sebagai satu bangsa Indonesia.

Indonesia adalah negara yang baik dan sah bagi umat Islam. Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung dan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi rujukan ideologis dalam kehidupan berbangsa yang majemuk, tutup Adi.

Menjawab pertanyaan M.Bintoro tentang kiat atau solusi apabila dijumpai adanya indikasi orang dengan ciri faham radikal yang mendatangi masjid. Ipda Andi menyampaikan pentingnya peran aktif takmir masjid. Andi menyampaikan beberapa penyelesaian atas pelaporan perebutan masjid oleh kelompok terpapar radikal karena kurang aktifnya takmir masjid. Awalnya mereka hanya ikut sholat, karena disitu tidak ada takmir maka selanjutnya masjid itu dijadikan tempat komunitas dan menjadi perebutan untuk diambil alih mereka. Apabila dijumpai adanya indikasi seseorang terpapar faham radikal, maka disarankan untuk berkomunikasi dan melaporkan kepada Bhabinkamtibmas dilingkungannya. Berdasarkan laporan tersebut maka kami akan menindaklanjuti sesuai dengan kerja kami sebagai aparat kepolisian, kata Andi.

Baca Juga Pesan Kapolres ; Prinsip Kerja Dai Kamtibmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *