LDII Jember: Gelar Festival Anak Sholeh Tanamkan 29 Karakter
Bertempat di Masjid Al-Manshurin, Patrang, DPD LDII Jember pada 30 Juni 2024 menggelar Festival Anak Sholeh (FAS) 2024 dengan tema “Melalui Festival Anak Sholeh Untuk Membentuk 29 Karakter Luhur Jamaah”. Penanaman 29 karakter luhur terus menjadi tugas utama dari LDII kepada generasi muda sejak usia dini, remaja, dewasa dan seluruh warga LDII.
Festival Anak Sholeh ini mejadi evaluasi dari pendidikan dan penanaman karakter luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari. “Namanya Festival Anak Sholeh, maka yang kita datangkan adalah anak-anak usia sekolah dari PAUD, TK, SD, dan setingkat SMP.” terang Fawas selaku ketua Panitia FAS.
Dalam laporannya Fawas menyampaikan bahwa FAS 2024 ini diikuti kurang lebih 500 anak dengan berbagai lomba seperti, lomba pildacil, loma baca tartil Al-Quran, lomba adzan, lomba cerdas cermat, lomba mewarnai dan lomba ketangkasan lainnya.
Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Akhmad Malik menyampaikan bahwa Festival Anak Sholeh ini menjadi kegiatan evaluasi dimana kami mengundang semua anak dari setiap PC LDII. Program kurikulum yang menjadi target bidang Program Pembinaan Generasi (PPG) yang sudah di susun selama satu tahun. “Bulan Juni dan Juli ini menjadi program evaluasi seperti FAS 2024 dimana masa liburan sekolah, anak-anak bisa berlomba menjadi yang terbaik dalam penguasaan materi,” terang Malik.
Malik menuturkan bahwa 29 Karakter luhur tersebut adalah: 6 thobiat luhur (rukun-kompak-kerjasama yang baik, jujur-amanah-hidup hemat). Tri Sukses Generus (berilmu, berakhlakul karimah dan mandiri). Menjaga 4 tali keimanan (bersyukur, mempersungguh, mengagungkan dan berdoa). 4 prinsip kerja yang baik (kerja bener, kerja kurup, kerja sesuai janji yang disepakati). Memiliki 5 syarat kerukunan (berbicara yang baik, jujur bisa dipercaya dan juga bisa mempercayai, tidak merusak baik dirinya, hartanya, hak asasinya dan kehormatannya. Menanamkan 4 roda berputar, yaitu: yang kuat membantu yang lemah, yang bisa membantu yang tidak bisa, yang ingat bisa mengingatkan yang lupa, yang salah dinasehati untuk bisa bertaubat. Dan juga meyakini 4 Maqodirulloh, yaitu: bila mendapatkan nikmat bisa bersyukur, bila terkena musibah bisa istirja, bila mendapat cobaan supaya bisa bersabar, dan bila melakukan salah bisa sadar dengan kesalahannya dan mau bertobat.
Peranan orang tua dalam pendidikan anak dirasa sangatlah penting. Orang tua harus bisa mengukur dan mengetahui kemampuan anak dalam menentukan jenjang pendidikannya. Mengingat pentingnya pendidikan agama dan pendidikan yang berkarakter dapat menentukan masa depan dan kesuksesan anak yang di dambakan oleh setiap orang tua. Maka, LDII turut berkontribusi dalam merumuskan kiat-kiat sukses dalam pendidikan anak.
Pentingnya pendidikan karakter tidak hanya sebatas wacana, namun implementasi nyata. Pendidikan karakter tidak bisa sekadar diajarkan dalam seminar sehari melainkan melalui program berjangka. Kenapa? Untuk membentuk karakter diperlukan waktu dan proses tumbuh kembang si anak, terutama melalui tangan-tangan lembut para orang tua. Kedekatan emosi antara anak dan orang tua lah yang menjadi faktor keberhasilan pendidikan karakter dalam keluarga. Dan bagaimana orang tua mampu mengimplementasikan apa yang diajarkan kepada anak juga menjadi celah keberhasilan tersebut.
Anak cenderung meniru, maka berilah contoh yang baik agar kelak orang tua bisa menjadi figur idola dan panutan bagi anak-anaknya. Misalnya, orang tua perintah anaknya untuk mengerjakan salat namun dia sendiri tidak salat, hal itu tidak akan berhasil. Orang tua perintah anak untuk berbahasa yang halus dan sopan kepada yang tua, namun melihat bapaknya berbicara kasar kepada kakeknya, hal ini juga takkan berhasil. Orang tua perintah jangan tidur sehabis subuh namun dia sendiri mengerjakannya, itu juga tidak akan berhasil.
Contoh kecil seperti itulah yang merupakan bibit-bibit pendidikan karakter dalam keluarga dan persentase keberhasilannya benar-benar di tangan para orang tua. Berilah contoh yang baik dan biarkan mereka meniru. Bawa anak ke masjid dan dudukan di samping kita sambil berzikir, anak yang melihat bapaknya akan berusaha meniru. Lakukan hal tersebut berulang- ulang. Pendidikan karakter merupakan pendidikan jangka panjang sehingga tidak hanya sekali orang tua mengajari atau memberikan contoh.
Baca Juga: Ketua DPD LDII Jember Sikapi Liburan Sekolah untuk Mengaji dan Rekreasi