Berbekal Mondok di Al-Manshurin Jember, Rofik Ingin Mondok ke Wali Barokah Kediri

0

Boleh dikatakan proses itu lebih berat daripada hasilnya, kadangkala meramut, memberikan contoh itu lebih berat. Tetapi sungguh membanggakan ketika ada alumni yang berhasil menanamkan citra yang baik yang tugas di luar Jember. Demikian disampaikan pinisepuh pondok, KH. Boediono pada acara “Pelepasan Santri Pondok Pesantren Al-Manshurin 29 Oktober 2024 di Aula DPD LDII kabupaten Jember.

Boediono menceritakan santri alumni Pondok Pesantren Al-Manshurin Jember yang membanggakan dimana alumni tersebut pernah bertugas di Kendari, Sulawesi Tenggara. “Alumni kita yang sudah lulus dan tugas menjadi Mubaligh itu mendapatkan apresiasi dari tempat tugasnya di Kendari dan bisa menjadi contoh yang baik,” terangnya.

Dikisahkan seorang anak bernama Al-Farisi ketika umur 6 tahun diberi tugas angon kambing/sapi. Salman Al-Farisi adalah anak seorang Rabbi. Sang ayah Rabbi senantiasa berpesan kepada Salman Al-Farisi untuk tidak mendekati orang Iman. Betapa hidayah Alloh kemudian memilih Salman Al-Farisi.

Ada kisah seorang anak bernama Adam yang katanya nakal dan karena pengurusnya menilai nakal maka Adam mendapatkan teguran bahkan pemukulan. Setelah besar Adam menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam dan fotonya disebarkan di daerahnya.

Betapa kita sebagai pengurus pondok pesantren yang tentu sedang membina anak-anak (santri) harus bisa mengambil hikmah dari kisah Salman Al-Farisi dan Adam. Dimana kenakalan seorang anak, tentu masih bisa kita bisa dengan kesabaran dan ketekunan.

Boediono mengajak semua pengurus pondok untuk senantiasa sabar dan menjalankan tugas mulia mendidik para santri sehingga tertanam 29 karakter luhur dan menjadi santri yang baik dan bisa lulus meneruskan mencari ilmu di pondok Wali Barokah Kediri dan Kertosono.

Rofik, salah satu santri yang hari ini dinyatakan lulus dan siap untuk menjadi Mubaligh merasa banyak ilmu dan kenangan yang takkan terlupakan saat di Pondok Al-Manshurin Jember.

Rofik mengisahkan awal kedatangannya menjadi santri di Pondok Al-Manshurin masih belum bisa apa-apa. Di pondok Al-Manshurin kami banyak belajar dan mendapatkan bimbingan agama, kemandirian dan kedisiplinan dalam beribadah dan juga banyak bertemu teman-teman santri yang luar biasa.

Setelahnya lulus dari Pondok Al-Manshurin Jember, Rofik akan meneruskan mondok di Pondok Wali Barokah Kediri dan Kertosono untuk menjadi Mubaligh.

Ketua Pondok Pesantren Al-Manshurin, KH. Budi Santoso menyampaikan bahwa selain materi Qur’an dan Hadits dan pendidikan agama. Pondok Al-Manshurin juga menanamkan 29 karakter unggul yaitu: 6 thobiat luhur, tri sukses, 4 roda berputar, 4 tali keimanan, 4 maqodirulloh, 3 prinsip kerja dan 5 syarat kerukunan.

“Dengan bekal 29 karakter tersebut diharapkan santri Al-Manshurin yang sudah lulus menjadi alumni bisa menjadi penyampai agama (mubaligh/mubalighot) dan bisa sukses dalam berusaha atau berwiraswasta serta menjadi teladan terjun di masyarakat,” kata Budi.

Baca Juga:

Ponpes Wali Barokah Kediri Nominasi Pesantren Sehat ke 3 se-Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *