Momentum Idul Fitri 1446H: Ketum LDII Serukan Benahi Demokrasi dan Akhlak Bangsa

0
ldiijember-ketum-chriswanto-santoso

Jakarta 31 Maret 2025

Ketum LDII, KH Chriswanto Santoso dalam pers releasnya di Jakarta menyatakan Idul Fitri menjadi momentum untuk mengingat kembali esensi demokrasi Indonesia bukanlah demokrasi liberal, tapi demokrasi gotong-royong. Dalam demokrasi gotong-royong perselisihan diselesaikan secara konstruktif, artinya kebijakan pemerintah yang tidak bisa diterima oposisi, dirembuk untuk direkonstruksi menjadi keputusan yang bisa diterima seluruh rakyat Indonesia.

Chriswanto mengungkapkan esensi demokrasi inilah yang menjadi pembeda dengan demokrasi liberal, “Demokrasi Indonesia bukan demokrasi bebas menghujat tapi merekonstruksi bersama-sama kebijakan yang tidak selaras dengan kepentingan umum,” tegas KH Chriswanto. Ia menyontohkan demokrasi bangsa Indonesia dijiwai dengan Pancasila, dan nilai-nilai dalam setiap sila selalu mengedepankan gotong-royong, “Makanya di dalamnya terdapat kata-kata saling menghargai, menghormati, dan tepo seliro yang menegaskan adanya komunalisme. Tidak mementingkan diri sendiri atau golongan namun mengedepankan kepentingan umum,” tegasnya.

Idul Fitri ini adalah momentum terbaik agar akhlak bangsa ini kembali ke jiwa gotong-royong dan kebersamaan. Apalagi krisis moneter yang menjurus krisis sosial pada 1998 menjadi pelajaran penting, bahwa unjuk rasa dengan kekacauan hanya memperparah penderitaan masyarakat. “Idul fitri adalah kesempatan yang baik untuk kita saling bermaafan, membuang rasa dengki dan dendam terhadap sesama, dan waktu yang baik utuk membersihkan hati. Karena, bila kita tetap menyimpan dendam dan dengki dalam hati, Rasulullah SAW pernah mengingatkan, bahwa penyakit umat sebelum kalian telah merambah pada kalian, yaitu dengki dan kebencian, yang akan mencukur gundul, bukan mencukur rambut, tapi mencukur agama alias mencukur habis amal baik kita,” paparnya.

Bila tidak ada kebaikan dari penguasa dan para oposan, sebuah negara akan dilanda kehancuran. KH Chriswanto pun mengingatkan isi Surat Al Khasr ayat 10, bahwa hati yang bersih dari penyakit dendam dan dengki bisa diupayakan, bahkan menjadi doa, “Kita sebagai suatu bangsa harus meminta kepada Allah, agar tidak ada kedengkian dengan sesama orang yang beriman,” paparnya.

Ia pun memperingatkan, jangan karena alasan berbeda pendapat lalu menjadikan anak bangsa lainnya sebagai musuh bersama. Segala perselisihan di muka bumi, yang menghadirkan kerusakan justru mengakibatkan kerugian bagi semua pihak, hanya membuat umat manusia bangkrut atau merugi di akhirat.“Rasulullah SAW menjelaskan, sesungguhnya orang bangkrut dari umatku ialah orang yang pada hari kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa, dan pahala zakatnya. (Dengan pahalanya itu dia merasa layak untuk masuk surga). Tetapi waktu di dunia dia pernah mencaci maki orang, menuduh dan mencemarkan nama baik orang, memakan harta orang lain, menganiaya orang sampai berani menumpahkan darah orang lain,” tutur KH Chriswanto.

Kerusakan bangsa Indonesia ini juga dibawa di media sosial. Negeri yang dipenuhi masyarakat yang ramah tamah itu, ternyata prilakunya berkebalikan di media sosial, “Kita dinilai dunia sebagai netizen yang tak sopan. Kita harus mengingat pencaci maki dianggap prilaku jahat, sebaliknya bila cacian dibalas cacian, artinya kita juga berprilaku jahat.

Pernyataan Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dalam menyambut Idul Fitri 1446 H ini memberikan perspektif penting mengenai esensi demokrasi Indonesia, yaitu demokrasi gotong-royong.

Berikut adalah poin-poin utama dari pernyataannya:

  • Esensi Demokrasi Gotong-Royong: KH Chriswanto Santoso mengingatkan bahwa demokrasi Indonesia berbeda dengan demokrasi liberal. Intinya adalah penyelesaian perselisihan secara konstruktif melalui rembuk untuk merekonstruksi kebijakan yang tidak diterima oposisi menjadi keputusan yang dapat diterima seluruh rakyat.
  • Pembeda dengan Demokrasi Liberal: Perbedaan mendasar terletak pada cara menyampaikan kritik. Demokrasi Indonesia bukan tentang kebebasan menghujat, melainkan tentang merekonstruksi kebijakan bersama-sama demi kepentingan umum.
  • Landasan Pancasila: Demokrasi gotong-royong dijiwai oleh Pancasila. Nilai-nilai dalam setiap sila mengedepankan gotong-royong, saling menghargai, menghormati, dan tepo seliro (tenggang rasa).
  • Mengutamakan Kepentingan Umum: Demokrasi gotong-royong menekankan komunalisme, tidak mementingkan diri sendiri atau golongan, melainkan mengedepankan kepentingan umum.
  • Idul Fitri sebagai Momentum: Hari Raya Idul Fitri diharapkan menjadi momentum terbaik untuk mengembalikan akhlak bangsa kepada jiwa gotong-royong dan kebersamaan.

Pernyataan KH Chriswanto Santoso ini sangat relevan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, terutama setelah melalui berbagai dinamika politik dan sosial. Beberapa poin yang dapat dianalisis lebih lanjut:

  • Kritik terhadap Demokrasi Liberal: Pernyataan ini secara implisit memberikan kritik terhadap praktik demokrasi liberal yang terkadang cenderung individualistik, kompetitif secara ekstrem, dan berpotensi menimbulkan polarisasi yang mendalam.
  • Penekanan pada Musyawarah dan Mufakat: Konsep “rembuk untuk direkonstruksi” sejalan dengan prinsip musyawarah untuk mufakat yang menjadi ciri khas pengambilan keputusan dalam budaya Indonesia.
  • Nilai-nilai Luhur Bangsa: Mengaitkan demokrasi dengan nilai-nilai Pancasila, seperti gotong-royong, saling menghargai, dan tepo seliro, mengingatkan kembali akan akar budaya dan filosofi bangsa dalam berdemokrasi.
  • Harapan akan Persatuan dan Kesatuan: Seruan untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum mengembalikan jiwa gotong-royong dan kebersamaan menunjukkan harapan akan terciptanya persatuan dan kesatuan yang lebih kuat pasca perayaan hari raya.

Secara keseluruhan, pernyataan Ketua Umum DPP LDII ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk merenungkan kembali makna demokrasi yang sesungguhnya bagi Indonesia, yaitu demokrasi yang berlandaskan pada semangat kebersamaan, musyawarah, dan mengutamakan kepentingan seluruh rakyat. Ini adalah pesan yang penting, terutama di tengah tantangan polarisasi dan perbedaan pandangan yang seringkali muncul dalam kehidupan berbangsa.

Inilah yang membuat demokrasi kita terasa panas dan gerah, tanpa solusi dan hanya ada kemarahan,” tegasnya. Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa, menjadikan Idul Fitri sebagai ajang untuk memaafkan dan mengoreksi diri demi masa depan bangsa. Indonesia terlalu besar dan berharga untuk dikorbankan demi kepentingan kelompok tertentu, “Marilah jadikan media sosial sumber pahala kita, jangan dijadikan sumber dosa dan permusuhan, untuk caci-maki, provokasi, ghibah dan namimah (menggunjing dan adu domba),” pungkas KH Chriswanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *