Hadapi Tekanan Ekonomi, LDII Ajak Masyarakat Saling Jaga dan Hidup Hemat ‘Muzhid-Mujhid’

0
ldiijember-ketum-dppldii-dody

JAKARTA (15/6) – Situasi ekonomi global lagi nggak menentu nih, guys. Imbasnya mulai kerasa ke dompet kita lewat melemahnya nilai tukar rupiah, harga BBM yang merangkak naik, sampai inflasi domestik yang bikin harga bahan pokok ikut ikutan “skincare-an” alias makin mahal. Menanggapi fenomena ini, DPP LDII ngajak kita semua buat nggak panik, melainkan ambil langkah taktis buat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Caranya? Lewat kombinasi gaya hidup hemat, cari side hustle (penghasilan tambahan), dan menerapkan prinsip ekonomi syariah yang bersahaja. Istilah kerennya: “hidup hemat, tirakat banter!”

Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan kalau ketahanan nasional di masa krisis itu sebetulnya dimulai dari unit paling kecil, yaitu keluarga. Biar daya beli nggak anjlok, LDII mendorong kita buat reset atau mengatur ulang pola konsumsi harian dengan merujuk pada kearifan nilai religius yang Islami.

“Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, yuk kita praktekkin lagi prinsip Muzhid dan Mujhid. Muzhid itu artinya hidup zuhud, sederhana, bersahaja, dan jauh dari sifat konsumtif bisa nahan diri dari belanja yang cuma lapar mata atau bukan prioritas. Nah, kalau Mujhid itu artinya kita gas pol, bersungguh-sungguh cari cuan yang halal, giat bekerja, dan tetap produktif. Kombinasi cermat atur pengeluaran plus kerja keras cari income tambahan adalah benteng utama keluarga muslim saat ini,” jelas Dody Taufiq Wijaya dalam keterangan resminya di Jakarta.

Dody juga menambahkan, daripada kita ikutan panic buying atau habis energi buat ngeluh di media sosial, mendingan momentum ini dipakai buat “bersihin” harta lewat zakat, infak, dan sedekah. Solidaritas sosial ini bakal jadi bantalan alami yang paling ampuh buat ngeredam gejolak di masyarakat.

Gaya Hidup Bersahaja Tapi Tetap Produktif

Satu suara dengan Ketum, Ekonom UPN “Veteran” Yogyakarta yang juga menjabat sebagai Sekretaris Majelis Pakar DPP LDII, Ardito Bhinadi, menjelaskan kalau tekanan ekonomi saat ini emang efek domino global. Mulai dari ketidakpastian pasar keuangan sampai fluktuasi harga energi dan pangan dunia yang otomatis berdampak pada biaya produksi dalam negeri.

Menurut Ardito, prinsip Muzhid-Mujhid ini sifatnya double impact relevan banget diterapkan sama masyarakat sekaligus pemerintah.

“Buat tingkat keluarga, Muzhid itu berarti smart spending: hidup bersahaja, hemat, cermat, dan fokus ke kebutuhan pokok. Sedangkan Mujhid artinya kita dituntut kreatif, upgrading skill, dan jeli melihat peluang usaha yang halal. Jadi, maknanya dalam konteks hari ini adalah: hidup sederhana tanpa kehilangan semangat produktif!” kata Ardito.

Kerennya lagi, Ardito menilai pemerintah juga kudu ikutan tren ini. Pemerintah harus Muzhid dalam artian hati-hati kelola fiskal, efisiensi belanja negara, kurangi pemborosan anggaran, dan fokus ke program yang berdampak langsung ke rakyat. Di sisi lain, pemerintah wajib Mujhid alias kerja ekstra keras buat memperkuat sektor produktif, jagain stabilitas harga, perluas lapangan kerja, jagain ketahanan pangan, serta dukung penuh UMKM.

“Ketahanan ekonomi itu kolaborasi dua arah. Masyarakat bijak konsumsi, pemerintah bijak belanja. Masyarakat produktif, pemerintah responsif menciptakan iklim ekonomi yang sehat,” tambahnya.

Aksi Nyata LDII di Akar Rumput

Nggak cuma sekadar kasih teori atau imbauan, DPP LDII juga gerak cepat lewat aksi nyata. Biar ekonomi umat tetap berdaya dan tangguh melewati masa-masa sulit, LDII terus mengoptimalkan peran UMKM dan akses pembiayaannya lewat Baitul Maal wat Tamwil (BMT) di tingkat akar rumput.

Nggak ketinggalan, edukasi seputar literasi keuangan keluarga berbasis prinsip Muzhid-Mujhid ini juga makin digencarkan lewat jaringan majelis taklim LDII di seluruh Indonesia. Jadi, yuk aktifkan mode Muzhid-Mujhid biar kita tetap survive dan makin seterong!

Aksi Nyata di Kabupaten Jember

Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, H. Akhmad Malik, menyatakan bahwa gejolak ekonomi global yang berdampak pada daya beli masyarakat lokal harus disikapi dengan langkah yang konkret dan berbasis komunitas. Menurutnya, wilayah Jember memiliki potensi sosiologis dan ekonomi yang kuat jika digerakkan secara kompak.

“Kami di tingkat daerah sepenuhnya mendukung instruksi pusat. Konsep Muzhid-Mujhid ini sangat relevan dengan nafas perjuangan warga LDII Jember. Di satu sisi kita memperketat ikat pinggang dengan hidup bersahaja dan hemat, namun di sisi lain kita justru harus menaikkan level kreativitas dan kerja keras untuk menangkap peluang ekonomi baru.”

Tidak sekadar menjadi wacana, DPD LDII Kabupaten Jember menerjemahkan konsep makro tersebut ke dalam beberapa program riil:

  1. Pengaktifan “Mode Kemandirian” Generasi Muda: Sejalan dengan pembinaan berkelanjutan, DPD LDII Jember secara masif menggembleng para pemuda, milenial, dan Gen-Z di Jember untuk mengaktifkan mode kemandirian ekonomi. Warga muda didorong untuk tidak defensif menghadapi krisis, melainkan kreatif menciptakan peluang usaha (entrepreneurship) baru, memanfaatkan platform digital, serta jeli melihat potensi pasar lokal guna menghadirkan sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
  2. Diklat Jurnalistik dan Literasi Media untuk Penguatan UMKM: Sebagai langkah taktis perluasan kompetensi, DPD LDII Jember menggelar Diklat Jurnalistik pada 20-21 Juni 2026 di Aula DPD LDII Jember. Pelatihan yang bersinergi dengan Diskominfo Jember, LINES, dan KIM LDII Jatim ini tidak hanya melatih unsur pemuda dari PC se-Jember dan Pondok Pesantren binaan untuk menulis berita, tetapi juga dibekali kemampuan literasi digital. Keterampilan komunikasi publik dan pembuatan konten kreatif ini nantinya akan diarahkan untuk membantu mempromosikan serta memajukan produk-produk UMKM warga secara digital agar lebih berdaya saing.
  3. Edukasi Keuangan Syariah di Jaringan Majelis Taklim: Melalui jaringan Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) di seluruh kecamatan se-Kabupaten Jember, edukasi mengenai manajemen keuangan keluarga berbasis prinsip Islam yang bersahaja terus digulirkan. Ibu-ibu dan kepala keluarga diajak untuk merestrukturisasi skala prioritas belanja harian, menghindari perilaku konsumtif yang tidak perlu, serta mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok yang produktif.
  4. Penguatan Akses Modal Mikro via BMT: Untuk menyokong warga yang ingin memulai usaha sampingan (side hustle) atau memperluas bisnis kecilnya, DPD LDII Jember terus mengoptimalkan peran Baitul Maal wat Tamwil (BMT) lokal. Pendampingan ini memastikan para pelaku usaha mikro di Jember bisa mendapatkan akses pembiayaan yang mudah, ramah, dan bebas dari praktik riba demi menjaga stabilitas dapur rumah tangga mereka.

Pesan Kunci: “Harapan tertinggi LDII adalah melihat warganya tumbuh menjadi pribadi yang seimbang: Muzhid dalam pengeluaran dengan hidup hemat dan tirakat yang kuat, namun Mujhid dalam ikhtiar dengan kerja keras yang tak kenal lelah. Dari sinilah potret keluarga muslim yang bersahaja namun tetap berdaya dan produktif dapat terwujud.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *