KH Chriswanto Santoso: Polarisasi Digital Adalah Proxy War, Sekolah Kebangsaan Jadi Tamengnya
Jakarta, 24 Agustus 2025
Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), KH Chriswanto Santoso, secara resmi membuka Sekolah Virtual Kebangsaan di Jakarta. Acara ini menjadi tonggak baru LDII dalam membumikan nilai-nilai kebangsaan melalui pendekatan digital, khususnya di kalangan generasi muda.
Dalam sambutannya, KH Chriswanto Santoso menyoroti bagaimana dunia digital membawa dampak besar terhadap kehidupan berbangsa, termasuk meningkatnya polarisasi sosial yang dipicu oleh algoritma media sosial.
“Di dunia digital, algoritma sangat berpengaruh. Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan muncul kembali di layar kita. Input dari digital begitu banyak, tapi tidak ada filter. Inilah yang disebut proxy war, sebuah perang tanpa senjata,” tegasnya.
Beliau menjelaskan bahwa algoritma yang bekerja di balik platform digital cenderung menciptakan echo chamber, yang memperkuat pandangan individu tanpa ruang dialog sehat. Karena itu, LDII merasa penting untuk hadir melalui pendidikan kebangsaan yang kritis, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
KH Chriswanto menyoroti bagaimana dunia digital membawa dampak besar terhadap kehidupan berbangsa. Menurutnya, algoritma media sosial dan platform digital bisa menjadi faktor yang memperkuat polarisasi.“Di dunia digital, algoritma sangat berpengaruh. Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan muncul kembali di layar kita. Input dari digital begitu banyak, tapi tidak ada filter. Inilah yang disebut *proxy war*, sebuah perang tanpa senjata,” ujarnya.
Ia menegaskan, selain perang fisik, Indonesia kini menghadapi perang digital yang jauh lebih kompleks. Informasi yang tidak tersaring, ujaran kebencian, dan provokasi di ruang maya bisa memecah belah persatuan bangsa.“Keberagaman yang kita miliki seperti suku, pulau, bahasa, agama adalah kekuatan, tetapi sekaligus kerentanan. Jika kita amati, di Arab yang satu bahasa saja bisa terpecah jadi 24 negara. Indonesia jauh lebih beragam, sehingga kita lebih rentan bila tidak ada fondasi kebangsaan yang kuat,” kata KH Chriswanto.
Karena itu, LDII menempatkan isu kebangsaan sebagai urusan prioritas utama. Chriswanto menekankan bahwa lahirnya Pancasila adalah anugerah besar bagi bangsa Indonesia, yang sejak awal berdiri dibangun atas dasar perbedaan. “Kita harus bersyukur karena lahirlah Pancasila di negara kita. Pancasila menjadi titik temu dari berbagai kepentingan, identitas, dan latar belakang. Tegaknya kebangsaan merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebangkitan nasional di era sekarang tidak lagi hanya diukur dari kekuatan fisik atau ekonomi, melainkan juga dari ketahanan bangsa dalam menghadapi gempuran informasi global. “Kebangkitan nasional 2.0 hanya bisa terwujud bila kita benar-benar memahami dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa itu, Indonesia bisa terseret arus perpecahan,” ujarnya.
SVK II sendiri digelar sebagai ruang pembelajaran kebangsaan yang relevan dengan tantangan era digital. Program ini menghadirkan materi yang dirancang untuk memperkuat pemahaman Pancasila di kalangan generasi muda, sekaligus memberikan bekal agar mereka lebih kritis terhadap informasi digital. “Melalui SVK II, kami berharap generasi muda LDII dan masyarakat luas bisa lebih memahami arti penting Pancasila, serta menjadikannya benteng persatuan di tengah derasnya arus globalisasi,” pungkas Chriswanto.
Program ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh nasional, akademisi, dan ormas keagamaan. LDII juga menggandeng lembaga pendidikan tinggi dan komunitas digital untuk memperkuat pendekatan edukatif berbasis teknologi.
Komentar Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Akhmad Malik
Menanggapi peluncuran Sekolah Virtual Kebangsaan, Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Akhmad Malik, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif DPP LDII.
“Kami di Jember menyambut gembira peluncuran Sekolah Virtual Kebangsaan ini. Ini adalah langkah cerdas dan tepat waktu dari DPP LDII dalam merespons tantangan zaman. Anak-anak muda sekarang sangat lekat dengan teknologi, dan LDII mampu masuk ke ruang itu dengan semangat kebangsaan,” ujar Akhmad Malik.
Ia menambahkan bahwa pihaknya akan mendorong pemuda-pemudi LDII di Kabupaten Jember untuk berpartisipasi aktif.
“Kami siap memfasilitasi dan mendampingi seluruh peserta dari Jember agar bisa mengikuti program ini secara optimal. Kami yakin, inisiatif ini akan menumbuhkan karakter cinta tanah air yang lebih kuat dan berwawasan digital,” tambahnya.
Dengan peluncuran ini, LDII menunjukkan komitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, menjaga nilai-nilai luhur bangsa, dan menjadi bagian dari solusi atas tantangan era digital.
Berita terkait:
DPP LDII Gelar Sekolah Virtual Kebangsaan: Soroti Peran Media Siber dalam Ketahanan Nasional
LDII Kembali Gelar Sekolah Virtual Kebangsaan (SVK) II: “Ketahanan Nasional di Era Digital”