LDII Peduli Karhutla: Peringatkan Dampak Kesehatan Berlapis Kabut Asap

0
Pakar-Epidemiolog-yang-juga-Ketua-DPP-LDII-Dicky-Budiman

JAKARTA Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dapat menimbulkan dampak kesehatan berlapis, mulai dari gangguan pernapasan hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Epidemiolog yang juga Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Dicky Budiman. Menurutnya, asap karhutla mengandung kombinasi berbahaya yang langsung mengancam organ vital tubuh.

“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, serta sejumlah gas iritan yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu peradangan,” ujar Dicky.

Dicky menjelaskan bahwa dampak paparan asap ini bersifat bertingkat. Pada saluran pernapasan, asap dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), hingga penurunan fungsi paru secara dramatis.

Tak hanya sistem pernapasan, partikel halus yang terserap ke dalam tubuh juga dapat memicu peradangan pada sistem jantung dan pembuluh darah. Kondisi ini berisiko meningkatkan ancaman serangan jantung, stroke, serta gangguan irama jantung (aritmia). Selain itu, iritasi fisik seperti konjungtivitis pada mata, iritasi kulit, dan tenggorokan gatal juga umum terjadi.

Perhatian Ekstra bagi Kelompok Rentan dan Anak

Epidemiolog DPP LDII tersebut menekankan pentingnya perlindungan ekstra bagi kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan penderita penyakit kronis.

Pada ibu hamil, paparan jangka panjang berisiko menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR) serta kelahiran prematur. Sementara pada anak-anak, paparan berulang setiap musim karhutla berpotensi mengganggu tumbuh kembang dan perkembangan fungsi paru.

“Anak jauh lebih rentan karena frekuensi napasnya lebih cepat sehingga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badannya. Saluran napasnya juga lebih sempit dan parunya masih berkembang,” terang Dicky.

Ia menambahkan, paparan asap pada anak dapat memicu batuk berkepanjangan, infeksi telinga, sesak napas, hingga kekurangan oksigen yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko asma kronis.

Mengenali Tanda Bahaya dan Langkah Pencegahan

Masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis jika menemui tanda-tanda bahaya seperti:

  • Sesak napas, napas cepat/berbunyi saat beristirahat.
  • Nyeri atau tekanan di dada serta jantung berdebar tidak wajar.
  • Pusing hebat, pingsan, batuk darah, demam tinggi, atau bibir/ujung jari kebiruan.
  • Pada anak: tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, lemas, atau sulit minum.

Bagi warga yang berada di wilayah terdampak dan belum memungkinkan mengungsi, Dicky membagikan sejumlah langkah preventif:

  1. Membatasi Aktivitas Luar: Hindari olahraga berat di luar ruangan saat kualitas udara buruk.
  2. Perlindungan Diri: Tutup pintu, jendela, dan celah ventilasi. Gunakan masker standar N95 jika terpaksa beraktivitas di luar rumah.
  3. Menciptakan Safe Room: Siapkan satu ruangan (seperti kamar tidur anak) yang paling minim paparan asap. Gunakan air purifier jika ada, tutupi celah pintu dengan kain basah, dan rutin bersihkan lantai dengan kain pel basah.
  4. Hindari Polusi Dalam Ruangan: Jangan membakar sampah, merokok, atau memasak yang menghasilkan banyak asap di dalam rumah.
  5. Menjaga Imunitas: Cukupi asupan cairan, nutrisi, serta ASI eksklusif bagi bayi. Manfaatkan ruang evakuasi/shelter berudara bersih yang disediakan pemerintah.

Tanggapan DPD LDII Kabupaten Jember

Menanggapi potensi bahaya karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, H. Akhmad Malik Afandi, S.P., M.M., menegaskan komitmen LDII di tingkat daerah untuk mendukung langkah-langkah kesiapsiagaan dan penanggulangan karhutla.

“Meskipun bencana karhutla sering kali terjadi di daerah kekeringan ekstrem atau area perkebunan dan hutan tertentu, dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat bersifat lintas batas. Apa yang disampaikan oleh pakar epidemiologi kami di DPP LDII, Bapak Dicky Budiman, menjadi pengingat penting bagi kita semua, termasuk warga Jember,” ujar H. Akhmad Malik Afandi.

Beliau mengimbau seluruh pengurus PC, PAC, serta warga LDII di Kabupaten Jember untuk aktif melakukan langkah-langkah mitigasi mandiri dan menjaga lingkungan sekitar. “Kami mengimbau warga LDII dan masyarakat Jember pada umumnya untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta menghentikan kebiasaan membakar sampah sembarangan di musim kemarau. Mari kita utamakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), saling menjaga kelompok rentan di sekitar kita, serta tanggap melakukan tindakan medis atau evakuasi jika kualitas udara memburuk. Kepedulian pada lingkungan adalah bagian dari wujud kepedulian kita terhadap sesama,” pungkanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *