Kisah Gus Ilham dan Kang Bejo: Antara Digdaya dan Pekok
Cerita Pendek
Matahari sore menggantung rendah di atas atap Pesantren Al-Hidayah. Di gazebo bambu sudut pesantren, duduklah dua santri yang kepribadiannya bak langit dan bumi.
Yang pertama bernama Ilham. Ia dijuluki Santri Digdaya. Ilham berotak encer, hafal Kitab Alfiyah Ibnu Malik luar kepala, mahir berdebat fiqih, dan konon punya firasat tajam. Setiap ada persoalan kitab yang rumit, para santri bahkan ustadz muda pasti sowan padanya.
Yang kedua bernama Bejo. Julukannya tak kalah bergengsi, tetapi dengan konotasi berbeda: Santri Pekok. Bejo adalah definisi hidup dari kata “lugu yang kelewatan”. Kepalanya plontos, sarungnya sering kedodoran, dan kalau diajak bicara hukum keagamaan, jawabannya kerap membuat orang mengelus dada sambil mengistighfarkan nama Tuhan.
Namun anehnya, di mana ada Ilham, di situ pasti ada Bejo.
Insiden Kambing Kyai
Suatu ketika, pesantren gempar. Kambing hitam kesayangan Kyai Sholeh mendadak hilang dari kandang saat malam Jumat Kliwon. Para santri sibuk berbisik-bisik, khawatir ada ilmu hitam atau pencuri sakti yang menyusup ke area pesantren.
Ilham, dengan ketenangan seorang ilmuwan dan kesucian spiritualnya, mulai menganalisis.
“Ini bukan pencurian biasa,” ucap Ilham tegas di hadapan belasan santri yang berkumpul di halaman. “Gembok kandang tidak rusak, tanah tidak berjejak. Pencurinya pasti memahami seluk-beluk ilmu kesaktian atau menguasai panglemburan (ilmu menghilang).”
Para santri manggut-manggut takjub. Kehebatan Ilham analisisnya memang tak diragukan lagi.
Saat suasana sedang tegang-tegangnya, muncul Bejo dari arah dapur umum. Wajahnya polos tanpa dosa, tangannya memegang seikat daun singkong, dan dari belakang sarungnya… muncul moncong hitam yang sangat dikenal warga pesantren.
Kambing Kyai Sholeh berjalan santai mengekor di belakang Bejo!
“Lho, Bejo! Kok kambing Kyai ada di kamu?” teriak salah satu santri.
Ilham pun terkejut. “Bejo! Apakah kamu berhasil menundukkan kekuatan gaib pencuri itu dengan amalan khusus?”
Bejo menggaruk kepalanya yang licin, lalu tersenyum tanpa dosa.
“Kekuatan gaib apa toh, Gus Ilham?” jawab Bejo polos. “Tadi malam pintu kandangnya lupa tak gembok. Kambingnya jalan-jalan sampai ke kamar mandi santri putri. Ya tak amankan di kamar santri, tak ajak tidur bareng biar tak kedinginan. Bikin sempit tidurku saja!”
Satu pesantren mendadak hening. Ilham menepuk jidatnya sendiri. Analisis “digdaya” miliknya runtuh seketika oleh ke-pekok-an Bejo yang lupa mengunci kandang sekaligus nekat mengajak kambing tidur di kamar.
Ujian Keikhlasan
Meski sering membuat Ilham mengurut dada, Ilham sangat menyayangi Bejo. Bagi Ilham, Bejo adalah pengingat agar ia tidak sombong dengan ilmu yang dimilikinya.
Suatu malam, Kyai Sholeh memanggil kedua santri tersebut ke kediamannya.
“Ilham, Bejo,” tutur Kyai Sholeh lembut sambil menyerahkan dua buah kelapa tua yang masih bersabut. “Malam ini, mintalah kepada Allah di sepertiga malam terakhir, lalu belahlah kelapa ini besok pagi. Kelapa ini akan menjadi penanda ketulusan hati kalian.”
Malam itu, Ilham bangun pukul dua pagi. Ia berwudhu dengan sempurna, menjalankan shalat tahajud delapan rakaat, berdzikir khusyuk, dan membaca wirid-wirid berat yang ia hafal. Ia memohon agar ilmunya bermanfaat dan diberi kelapangan batin.
Sementara di sudut mushola lain, Bejo terbangun karena kejatuhan cicak. Saat melihat kelapa di sampingnya, Bejo teringat pesan Kyai. Namun bukannya shalat berjam-jam, Bejo hanya shalat dua rakaat itu pun terbata-bata membaca surah pendek.
Selesai shalat, Bejo memeluk kelapanya erat-erat sambil berbisik, “Ya Allah, kulo mboten saget dzikir panjang-panjang kados Gus Ilham. Mripat kulo ngantuk sanget. Tapi kulo nyuwun, mugi-mugi Gus Ilham kelak dadi kyai ageng, lan kulo tetep saget dados kancane. Aamiin.”
Setelah itu, Bejo kembali tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka.
Rahasia di Balik Kelapa
Keesokan harinya, di hadapan Kyai Sholeh dan para santri, kedua kelapa itu dibelah.
Ilham membelah kelapanya lebih dulu. Crrasss! Airnya jernih, daging buahnya putih bersih dan tebal. “Luar biasa, ilmu dan niatmu jernih seperti air ini, Ilham,” puji Kyai Sholeh. Ilham tersenyum tipis, merasa tirakat semalam tidak sia-sia.
Kini giliran Bejo. Dengan canggung, ia membelah kelapanya menggunakan golok tumpul.
Prakkk!
Semua orang terperanjat. Di dalam kelapa milik Bejo yang pekok itu, terdapat sebuah batu akik berwarna merah delima yang memancarkan kilau indah di antara daging kelapanya.
“Masya Allah…” bisik Ilham terperangah. “Bagaimana bisa? Tirakat apa yang kamu lakukan semalam, Bejo? Apakah kamu membaca Asma Syeikh Abdul Qadir?”
Bejo meringis ketakutan, mengira ia membuat kesalahan lagi. “Mboten, Gus… Kulo mboten maos punapa-punapa. Kulo namung dungo ben Gus Ilham dadi wong hebat, terus kulo ngantuk sanget, dadi kulo tilem…”
Kyai Sholeh terkekeh-kekeh, lalu memegang pundak kedua santri kesayangannya itu.
“Kalian lihat?” ujar Kyai Sholeh bijak. “Ilham itu Digdaya karena otaknya, tirakatnya, dan ilmunya. Tapi Bejo itu Digdaya karena kepolosan hatinya yang tanpa prasangka dan tidak punya rasa kepemilikan dunia. Orang pekok yang hatinya bersih dan tulus mendoakan saudaranya, kadang pintunya ke langit jauh lebih cepat terbuka daripada orang alim yang masih punya sedikit rasa bangga akan ilmunya.”
Ilham menunduk dalam-dalam. Menetes air matanya menyadari pelajaran berharga hari itu. Ia merangkul bahu sahabatnya yang masih kebingungan.
“Bejo, Bejo… kamu ini memang pekok,” bisik Ilham sambil tersenyum tulus. “Tapi di hadapan Allah, sepertinya aku yang harus banyak belajar darimu.”
“Lho, belajar opo toh Gus?” sahut Bejo polos. “Nek mau belajar pekok, gampang. Nanti malam jenengan tidur bareng kambingnya Kyai saja!”
Gelak tawa pun pecah menyelimuti Pesantren Al-Hidayah pagi itu.