Dari Serambi Mekah, Kameramen Trans7 Kisahkan Suka Duka Liputan Lapangan di Diklat Jurnalistik LDII Jember
JEMBER (21/6) – Hari kedua pelaksanaan Diklat Jurnalistik DPD LDII Kabupaten Jember pada Minggu (21/6) menyuguhkan perspektif industri media penyiaran nasional yang sangat berharga. Melalui ruang virtual Zoom Meeting, peserta berkesempatan menyerap langsung kisah suka duka dan pengalaman empiris dari kameramen nasional Trans7, Adi Sumeh.
Menyapa peserta secara daring langsung dari pelataran Masjid Serambi Mekah, Aceh, Sumeh membagikan dinamika kerja sebagai seorang visual jurnalis di media televisi berskala nasional. Di balik layar kaca yang megah, ia mengungkapkan bahwa profesinya dipenuhi tantangan yang menguji fisik dan mental, namun menyuguhkan kepuasan batin yang luar biasa karena berkesempatan keliling Indonesia hingga ke berbagai belahan negara lain.

“Tadi malam saya baru saja menyelesaikan liputan kebakaran hutan dan dampak banjir bandang di Aceh. Alhamdulillah, siang ini jadwal sedang senggang (free) sehingga bisa terhubung dan berbagi pengalaman dengan rekan-rekan peserta kelas jurnalistik LDII Jember,” ungkap Sumeh mengawali sesinya.
Di hadapan para jurnalis muda LDII Jember, Sumeh secara terbuka menceritakan duka yang harus dihadapi, terutama ketika penugasan memaksa dirinya untuk sering meninggalkan rumah dan keluarga tercinta dalam waktu yang relatif lama. Tak hanya itu, risiko keselamatan di lapangan pun menjadi taruhan nyata demi sebuah validitas informasi visual.
Ia mengisahkan tragedi pahit yang pernah menimpanya saat meliput aksi demonstrasi besar di Jakarta yang berakhir ricuh. Ketika bentrokan pecah, kepalanya terkena lemparan batu hingga berdarah. Di momen lain, ia juga pernah mengalami insiden kejatuhan bom asap tepat di hadapannya.
“Saat bom asap jatuh tepat di depan saya, seketika mata terasa sangat perih, tenggorokan kering seperti tersedak, dan dada sesak. Namun, di situlah komitmen dan integritas kita sebagai jurnalis lapangan diuji untuk tetap tenang dan mengamankan aset informasi,” kenangnya.
Bekal Akademik Sastra UNEJ dan Pengalaman Nyantri di Syafi’ur Rohman
Sebagai putra daerah yang sukses menembus industri media nasional, Adi Sumeh membagikan kiat suksesnya. Ia menekankan bahwa fondasi awal kompetensinya dibangun sejak bangku kuliah lewat bekal jurnalistik 4 SKS di Fakultas Sastra Universitas Jember (UNEJ). Kendati demikian, modal akademis harus diimbangi dengan sikap proaktif.
“Saya mendapat bekal ilmu jurnalistik dari kampus walau hanya 4sks. Saya lebih banyak belajar secara otodidak, magang sebagai fotografer, serta aktif mencari ilmu di tempat lain untuk memperkaya portofolio. Kita harus terus meningkatkan skill dan kemampuan teknis secara dinamis. Jika kapasitas kita mumpuni, kita harus optimis bisa diterima saat wawancara,” tegasnya memotivasi peserta.
Menariknya, Sumeh juga alumni pondok pesantren yang turut membentuk karakter tangguh dan disiplin dalam dirinya. Saat menempuh studi di Universitas Jember, Sumeh menjadi santri di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Syafi’ur Rohman, Jember. Sebuah lembaga yang mempertemukannya secara emosional dengan Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, H. Akhmad Malik Afandi, S.P., M.M., karena keduanya pernah menimba ilmu keagamaan di pesantren mahasiswa yang sama.
Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Malik menyambut dengan apresiasi yang sangat tinggi atas kontribusi serta kesediaan Adi Sumeh untuk meluangkan waktu di tengah padatnya jadwal liputan nasional.
“Kehadiran Mas Adi Sumeh secara daring dari ujung Sumatera memberikan suntikan motivasi yang luar biasa konkret bagi anak-anak muda di daerah. Pengalaman riil dari seorang alumni pesantren yang kini eksis di jurnalisme televisi nasional membuktikan bahwa santri memiliki ruang kontribusi yang tak terbatas untuk menyiarkan kebaikan dan kebenaran di ruang publik,” pungkas Malik.