Jaga Kemabruran Sepulang dari Tanah Suci, Ketum LDII Ajak Jamaah Haji Jadi Teladan Kesalehan Sosial
JAKARTA (26/6) – Kepulangan jamaah haji ke tanah air merupakan momen krusial yang diharapkan menjadi awal dari transformasi spiritual dan intelektual yang berkesinambungan. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menekankan pentingnya para jamaah untuk senantiasa menjaga kemabruran haji mereka dengan cara membawa pengaruh positif dan menjadi teladan di lingkungan sekitarnya.
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menyampaikan bahwa esensi dari kemabruran haji hari ini adalah kemauan dan kemampuan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, berpikiran lebih maju, dan ketakwaan yang semakin meningkat. Dalam konteks pergantian tahun Hijriah, hal ini dikenal dengan istilah “hijrah”, yakni berpindah dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik, baik secara personal maupun sosial.
“Haji yang mabrur tidak boleh egois dengan kesalehan individunya saja, melainkan harus turun ke masyarakat, mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf), mencegah kemungkaran (nahi munkar), dan menjadi pelopor solusi atas berbagai problem sosial di sekitarnya,” ungkap Dody.
3 Pilar Utama Menjaga Kemabruran di Masyarakat
Dody memaparkan bahwa peran para haji dalam menjaga kemabruran sekaligus membangun peradaban bangsa saat ini dapat diwujudkan melalui tiga pilar kontribusi utama:
- Menjadi Penggerak Moral dan Etika: Memberikan teladan nyata mengenai kejujuran, keadaban, serta integritas tinggi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.
- Bertindak sebagai Perekat Sosial: Membawa kesejukan di akar rumput, aktif mengedukasi toleransi, dan mengikis polarisasi demi keutuhan bangsa.
- Menjadi Motor Penggerak Ekonomi Umat: Berkontribusi aktif melalui penguatan kepedulian sosial seperti zakat, infak, sedekah, serta pemberdayaan ekonomi demi mengentaskan kemiskinan dan kebodohan.
Ciri Haji Mabrur: Tutur Kata Santun, Lebih Empati, dan Wira’i
Senada dengan hal tersebut, Anggota Majelis Pakar DPP LDII, KH Aceng Karimullah, menambahkan bahwa indikator kemabruran haji telah digariskan oleh Rasulullah SAW, yakni terletak pada tutur kata yang lebih santun (thiyabul kalam) dan kegemaran memberi makan atau bersedekah (it’amuth tho’am). Dalam kondisi aktual saat ini, hal tersebut menunjukkan bahwa haji mabrur ditandai dengan solidaritas sosial yang semakin tebal, lebih empati, dan peduli kepada lingkungan sekitar.
“Menurut para ulama ahli tafsir, haji yang mabrur terletak pada mereka yang setelah pulang haji, sikapnya terhadap urusan dunia menjadi lebih wira’i, lebih zuhud, dan ekstra hati-hati—terutama pada hal yang haram atau syubhat. Urusan dunia lebih zuhud, namun urusan akhirat justru semakin mempeng (bersungguh-sungguh dengan penuh semangat),” papar KH Aceng.
KH Aceng juga mengingatkan bahwa tidak hanya ibadah haji, semua ibadah dalam rukun Islam sejatinya berdampak memajukan masyarakat jika dihayati dengan baik. Salat yang khusyuk akan memperbaiki akhlak seseorang, begitu pula ibadah puasa yang mampu melatih kesabaran serta menjauhkan diri dari perkara negatif.
DPP LDII meyakini, jika setiap tahunnya ratusan ribu jemaah haji Indonesia pulang dengan komitmen kuat untuk menjaga kemabruran melalui perubahan sosial ini, maka hal tersebut akan menjadi modal sosial yang sangat masif untuk membangun peradaban Indonesia yang maju, religius, dan berkeadilan.