Krisis Dunia di Depan Mata! Ketum LDII di Munas X: Saatnya Ormas Jadi Benteng Ketahanan Nasional

0
ldiijember-munasx-KH-Chriswanto-Santoso

JAKARTA (7/4) – “Perang mungkin jauh, tapi dampaknya ada di piring makan kita.” Pesan kuat inilah yang dilemparkan Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, saat membuka Munas X LDII di Ballroom Minhajurrosiddin, Jakarta, Selasa (7/4).

Di hadapan ribuan peserta, Chriswanto menegaskan bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar berita luar negeri. Ini adalah wake-up call bagi stabilitas energi, pangan, hingga ekonomi Indonesia.

Dampak Perang Itu “Long-Term”, Bukan Musiman

Chriswanto mengingatkan bahwa konflik kekuatan besar dunia bakal mengubah banyak hal dalam jangka panjang.

“Perang mungkin cuma berlangsung 4-5 bulan, tapi efek dominonya bisa bertahun-tahun. Kita nggak bisa pasif. Ormas keagamaan harus ikut ambil peran, bukan cuma jadi penonton,” tegasnya dengan lugas.

Revolusi Makna “Ketahanan Nasional”

Bagi LDII, ketahanan nasional nggak melulu soal militer atau senjata. Di era sekarang, ketahanan itu punya wajah baru:

  • Ketahanan Energi & Pangan: Mandiri di kaki sendiri.
  • Ketahanan Ekonomi: Kuat menghadapi tekanan eksternal.
  • Ketahanan Kebudayaan: Tetap beradab di tengah guncangan global.

“Kalau bisa hemat, ya hemat. Kalau bisa berkarya, gaspol berkarya! Lakukan apa pun kapasitasmu agar Indonesia tetap punya daya tahan,” tambah Chriswanto, memotivasi seluruh warga LDII untuk melakukan aksi nyata.”

LDII untuk Bangsa” Bukan Sekadar Tagline

Munas X kali ini mengusung visi besar: Membangun Indonesia yang Berdaulat, Harmonis, dan Berkeadaban. Komitmen ini dibuktikan lewat 8 Program Prioritas LDII yang punya irisan kuat dengan agenda nasional Asta Cita.

Fokus utamanya? Pembangunan SDM. LDII percaya, hanya dengan SDM yang top-tier, bangsa Indonesia bisa mengelola kekayaan alamnya sendiri tanpa harus bergantung pada pihak asing.

The Vibe of Munas X

Acara yang berlangsung hingga 9 April ini nggak cuma soal sidang formal. Dengan semangat “LDII untuk Bangsa”, forum ini menjadi inkubator solusi bagi tantangan global. Dari Jakarta, LDII mengirimkan pesan perdamaian sekaligus kesiapan untuk menjaga kedaulatan bangsa lewat aksi konkret, bukan sekadar retorika.

Komitmen Dari Daerah

Sebagai pemimpin di daerah yang bersentuhan langsung dengan akar rumput, H. Akhmad Malik Afandi, S.P., M.M. menangkap pesan Ketua Umum DPP LDII dengan sangat serius dan taktis. Bagi Malik, pidato pembukaan KH Chriswanto Santoso bukan sekadar orasi, melainkan “Instruksi Strategis” yang harus segera diterjemahkan ke dalam program kerja di Kabupaten Jember.

Berikut adalah poin-poin tanggapan mendalam Malik Afandi dalam menyerap pesan Ketum LDII:

1. Transformasi “Kekhawatiran Global” Menjadi “Aksi Lokal”

Malik mengapresiasi cara Ketum membedah krisis Timur Tengah yang berdampak pada piring makan rakyat.

“Pesan Pak Ketum sangat membumi. Beliau mengingatkan bahwa perang di sana bisa bikin harga pupuk atau BBM di Jember naik. Tanggapan kami di DPD Jember jelas: kita harus memperkuat Ketahanan Pangan Mandiri. Saya akan instruksikan warga LDII Jember untuk memaksimalkan lahan pekarangan dan inovasi pertanian agar tidak kaget jika terjadi guncangan ekonomi global,” ujar Malik.

2. Mendefinisikan Ulang “LDII untuk Bangsa” di Jember

Menanggapi tagline yang ditekankan Ketum, Malik merasa tertantang untuk membuktikan kontribusi konkret di daerah.Malik menangkap bahwa LDII tidak boleh eksklusif. Di Jember, ia akan semakin gencar membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah (Pemkab) dan tokoh lintas agama untuk menjaga stabilitas sosial, sesuai pesan Ketum tentang Indonesia yang Harmonis dan Beradab.

3. Fokus pada “SDM Profesional Religius”

Terkait penekanan Ketum pada pembangunan SDM dalam kerangka Asta Cita, Malik memandang ini sebagai penguatan bagi pondok-pondok pesantren dan sekolah di bawah naungan LDII Jember.

“Ketum menegaskan SDM adalah kunci kelola kekayaan alam. Maka, tugas saya di Jember adalah memastikan santri-santri kita tidak hanya pintar ngaji, tapi juga melek teknologi dan punya skill industri kreatif agar bisa mengelola potensi Jember sendiri,” tambahnya.

4. Ajakan “Berhemat dan Berkarya” sebagai Gaya Hidup

Malik sangat terkesan dengan pesan sederhana namun tajam dari Ketum tentang budaya hemat dan berkarya.Beliau berencana menjadikan pesan ini sebagai jargon pembinaan di tingkat PC (Kecamatan) dan PAC (Desa) di seluruh Jember. Baginya, kemandirian ekonomi dimulai dari mentalitas warga yang produktif dan tidak konsumtif di masa krisis.

Berita terkait:

Gus Irfan di Munas X LDII: “Indonesia Harus Swasembada! Jangan Sampai Gejolak Dunia Ganggu Piring Makan & Ibadah Kita”

Rapatkan Barisan! Ketua LDII se-Korda 3 Jatim Siap Kawal Total Rekomendasi Munas X di Jakarta

Ready for the Future! LDII Siap Jawab Krisis Global di Munas X & Pamer Kemandirian Anak Muda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *