Perkuat Ketahanan Nasional Melalui Budaya, DPP LDII Gandeng Menteri Kebudayaan Jelang Munas X

0
ldii-fadli-zone-menbudpar1

JAKARTA – Di tengah eskalasi konflik global yang kian memanas dan pergeseran peta geoekonomi dunia, ketahanan sebuah bangsa tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer atau stabilitas ekonomi semata. Kebudayaan dan penguatan karakter moral kini dipandang sebagai pilar fundamental dalam menjaga kedaulatan bangsa.Menyadari urgensi tersebut, jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) melakukan audiensi strategis dengan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Jakarta pada Senin (31/3).

Pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi LDII untuk mensinkronkan program kerja organisasi dengan visi besar pemerintah dalam melestarikan kekayaan budaya nasional.

Budaya Sebagai Benteng Pertahanan Global

Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari persiapan menjelang Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang dijadwalkan berlangsung pada 7-9 April 2026. Menurutnya, tema besar Munas kali ini sengaja dirancang untuk merespons dinamika lingkungan strategis global yang kian tidak menentu.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa konflik di kawasan Timur Tengah dan perubahan geopolitik global memberikan dampak domino bagi Indonesia. Oleh karena itu, tema Munas kami adalah memperkuat daya tahan terhadap tantangan global,” ujar Chriswanto.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa konsep ketahanan yang diusung LDII bersifat multidimensi. Selain ketahanan pangan dan energi, pembangunan ketahanan moral melalui instrumen kebudayaan menjadi prioritas utama. “Membangun moralitas bangsa tidak bisa dilepaskan dari akar budaya kita sendiri. Inilah alasan mengapa kami menghadirkan Menteri Kebudayaan sebagai narasumber kunci dalam Munas mendatang,” tambahnya.

Sinergi Berbasis Jaringan Pendidikan

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyambut baik inisiatif LDII. Ia menegaskan bahwa tugas memajukan kebudayaan nasional bukanlah tanggung jawab tunggal pemerintah, melainkan kerja kolektif seluruh elemen bangsa, termasuk Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam.

Fadli menyoroti potensi besar LDII yang memiliki jejaring pendidikan yang sangat luas dan terstruktur. Menurutnya, sekolah dan pondok pesantren adalah saluran terbaik untuk menginternalisasi nilai-nilai budaya kepada generasi muda.“Kementerian Kebudayaan membutuhkan kolaborasi dengan semua pihak. LDII memiliki infrastruktur yang luar biasa, mulai dari pondok pesantren, sekolah dasar, hingga perguruan tinggi. Ini adalah modal besar untuk memajukan kebudayaan Indonesia secara sistemik,” tegas Fadli Zon.

Ia berharap kedepannya akan ada kerja sama formal antara kementerian yang dipimpinnya dengan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan LDII untuk menciptakan kurikulum atau kegiatan yang berbasis pada penguatan identitas nasional.

Langkah Strategis Organisasi

Dalam audiensi tersebut, KH Chriswanto Santoso didampingi oleh sejumlah pengurus teras DPP LDII, di antaranya Ketua DPP LDII Singgih Tri Sulistyono, Sekretaris Wahjoe Setiono, Ketua Departemen Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) Tri Gunawan Hadi, serta anggota Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan, Netti Herawati.

Pertemuan ini mempertegas posisi LDII sebagai ormas yang tidak hanya fokus pada dakwah keagamaan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam diskursus kebangsaan. Dengan pelibatan tokoh-tokoh kunci pemerintahan seperti Menteri Kebudayaan dalam Munas X, LDII berupaya melahirkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi penguatan karakter bangsa di masa depan.

Munas X LDII diharapkan menjadi ajang konsolidasi yang tidak hanya memperkuat struktur internal organisasi, tetapi juga memberikan sumbangsih pemikiran nyata bagi ketahanan nasional Indonesia di tengah badai tantangan global.

Aresiasi dan Dukungan Daerah

Menanggapi langkah strategis DPP LDII yang menemui Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, H. Akhmad Malik Afandi, S.P., memberikan kesan positif yang menekankan pada penguatan akar rumput di daerah.Berikut adalah poin-poin kesan dan pernyataan dukungan beliau terhadap pertemuan tersebut:

1. Budaya sebagai Perisai Moral Generasi Muda

Akhmad Malik memandang audiensi tersebut sebagai langkah visioner. Menurutnya, di tengah gempuran budaya asing melalui media sosial yang melanda pemuda di Jember, penguatan kebudayaan nasional adalah kebutuhan mendesak.

“Kami di daerah merasakan betul betapa pentingnya ketahanan mental. Apa yang diperjuangkan Ketum di Jakarta dengan Menteri Kebudayaan adalah upaya memberikan ‘perisai’ agar generasi muda kita tetap memiliki jati diri Indonesia yang luhur di tengah arus globalisasi,” ungkapnya.

2. Sinergi Pendidikan Berbasis Karakter

Mengingat Jember adalah salah satu basis pendidikan dan pesantren LDII yang cukup besar di Jawa Timur, beliau menyambut baik rencana kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan.

Beliau menilai bahwa kurikulum karakter yang selama ini diterapkan di sekolah-sekolah di bawah naungan LDII Jember akan semakin kuat jika mendapat dukungan dan sinkronisasi dari pemerintah pusat.

3. Implementasi Program “8 Bidang Pengabdian

“Bagi Akhmad Malik, pertemuan ini merupakan bukti nyata bahwa LDII serius menjalankan Klaster Kebangsaan dan Pendidikan.

Beliau menekankan bahwa DPD Jember siap menindaklanjuti hasil audiensi tersebut dengan meningkatkan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang berbasis kearifan lokal Jember (seperti seni budaya yang selaras dengan nilai Islami).

4. Harapan untuk Munas X

Beliau menyampaikan kesan bangga atas kehadiran Menteri Kebudayaan sebagai narasumber dalam Munas X mendatang. Hal ini dianggap sebagai pengakuan pemerintah terhadap kontribusi LDII dalam pembangunan nasional.

Beliau menginstruksikan kepada seluruh warga LDII Jember untuk menyimak dan menginternalisasi hasil Munas nanti, terutama yang berkaitan dengan pembangunan ketahanan bangsa melalui kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *